
Beberapa hari yang lalu, Tim Nasional Sepakbola Senior Indonesia menjamu Oman dalam laga yang menentukan keikutsertaan negeri ini di ajang Piala Asia 2011. Saat pertandingan akan digelar, Indonesia menduduki posisi juru kunci tanpa mengantungi kemenangan. Seluruh rakyat Indonesia memberikan dukungan, dengan datang langsung ke Stadion Gelora Bung Karno, menyimak melalui layar kaca, atau mengandalkan layanan twitter seperti yang saya lakukan
. Semua berdoa, berharap Tim Nasional dapat memenangkan laga agar asa untuk berlaga di ajang Piala Asia tersebut masih ada.
Memang benar kata pepatah, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Pertandingan menentukan tersebut berakhir dengan kekalahan. Ah, kekalahan kesekian bagi Tim Nasional Indonesia. Kekalahan lagi bagi Tim yang di pundak merekalah diletakkan harapan Indonesia dapat lebih berbicara dalam ajang internasional. Sudah beberapa ribu kali pendukung setia ini mendapatkan janji perbaikan dari para pengurus organisasi olahraga paling populer ini. Janji-janji dari sekelompok orang yang sudah duduk terlalu lama, sampai merasa bahwa tidak ada lagi orang yang bisa melakukan pekerjaan lebih baik daripada mereka. Beberapa rekan dengan usia jauh lebih tua menyatakan bahwa para pengurus tersebut telah duduk di kursi tersebut semenjak mereka menempuh pendidikan dasar. Wah, benar-benar kursi yang sangat empuk. Bisa membuat orang yang sudah duduk lupa berdiri. Sampai-sampai ingin duduk lagi selepas keluar dari bui.
Sebagai pendukung Tim Nasional, mendengar kekalahan sudah menjadi sebuah berita yang biasa. Sudah lelah saya melihat pergantian pelatih kepala, mulai dari penggunaan pelatih lokal sampai pelatih level internasional, yang digadang-gadang dapat membuat negara gajah putih tetangga kita dapat menjuarai Piala Tiger dalam kurun waktu singkat saja. Muak mendengar pembelaan mengenai kurangnya waktu untuk melakukan pemusatan latihan. Bosan mendengar alasan kurangnya persiapan fisik dan mental. Sedih mengingat betapa banyaknya uang rakyat yang digelontorkan untuk mengirimkan mereka berlatih dan melakukan uji coba di negara-negara lain. Gondok rasanya. Lagi-lagi kalah.
Kelelahan, kemarahan, kebosanan dan kesedihan ini mungkin juga dirasakan oleh Hendri Mulyadi. Aksi menerobos pagar, menembus barikade polisi sampai mengecoh beberapa pemain lawan, menjadi berita yang ramai dibicarakan saat ini disamping kisruh Pansus Century dan Proses Pengadilan Anggodo. Tindakan berani, bahkan ada yang menyebut heroik, mewakili keinginan seluruh pendukung Tim Nasional agar hegemoni para orang-orang yang sudah duduk terlalu lama. Seperti biasa yang terjadi di Indonesia, muncul gerakan-gerakan yang mendukung tindakan Hendri tersebut. Mereka mendesak agar dilakukan perubahan terhadap organisasi pengurus sepakbola di negara ini, mengingat niat kita untuk mencalonkan diri sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022
.
Di pihak lain, pengurus yang berwenang mengatakan aksi tersebut mengakibatkan negara menderita kerugian sampai USD $20.000. Pada pertandingan kemarin, Indonesia dinyatakan melanggar 2 buah aturan FIFA mengenai penyelenggaraan pertandingan berskala Internasional, yaitu masalah penggunaan petasan dan aksi Hendri yang menerobos barikade pengamanan dan dianggap mengganggu jalannya pertandingan. Benar-benar aneh, tanggapan yang keluar dari pihak mereka hanya masalah pelanggaran, bukan permohonan maaf mengenai performa buruk dari Tim Nasional yang mengecewakan banyak orang. Mereka sepertinya tidak memiliki niat untuk melakukan introspeksi diri dan mengakui kesalahan yang mereka lakukan sehingga lagi-lagi tidak ada prestasi yang memuaskan. Tanpa ada rasa bersalah, mereka menuding bahwa tindakan tersebut membuat aib bagi bangsa Indonesia di hadapan FIFA. Apakah mereka tidak berpikir bahwa prestasi mereka lebih memalukan lagi? Berpuluh tahun berlaku sebagai pembina, namun tidak ada manfaatnya bagi kemajuan sepakbola.
Sudahlah, bubarkan saja kepengurusan itu. Hentikan saja penyelenggaran liga sepakbola super itu. Untuk apa membuang uang APBD jika yang disajikan dalam setiap pertandingan adalah ajang baku hantam, kejar-mengejar wasit dan perkelahian antara pendukung sepakbola. Keberadaan pemain asing bukan meningkatkan kualitas permainan, hanya menambah kericuhan. Lebih baik uang yang dikeluarkan digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, mungkin dengan membeli hak siar liga asing yang lebih bermutu sebagai tontonan akhir pekan.
Bagaimana lagi caranya memberi masukan bagi sekelompok orang yang sudah menutup diri mereka dari kebaikan. Ah, kalo seperti ini, kapan kita akan menang?????