Archive for the ‘ thought ’ Category

Kembali nge-blog

Selama ini, saya menggunakan fitur automated posting dari WordPress yang menghubungkan akun delicious.com dengan blog ini. Fitur tersebut akan membuat sebuah posting di blog ini yang berisikan link yang hasil penyimpanan link dari delicious.com. Hampir selama 1 tahun, blog ini hanya berisikan posting dari link delicious.com.

Saat lebaran tahun 2011, timbul masalah dalam auto posting yang disediakan oleh WordPress.com. Setiap link dari delicious.com muncul berkali-kali dalam posting blog. Permasalahan ini sangat mengganggu, terutama karena blog ini terhubung dengan twitter, sehingga memenuhi Timeline twitter saya. Setelah mendapatkan akses Internet, maka saya menon-aktifkan link dari blog ini ke twitter.com sebagai tindakan penyelesaian sementara.

Setelah liburan selesai, saya tetap tidak punya waktu untuk mencari penyebab mengapa postingan link dari delicious.com ini bermasalah. Sampai akhirnya, delicious.com mengubah API dan posting mengenai link ini akhirnya berhenti. Sungguh disayangkan, mengingat delicious.com ini telah menjadi pilihan saya untuk menyimpan bookmark.

Akhirnya di saat saya memiliki waktu luang, saya memulai ‘pembersihan’ terhadap blog ini. Ternyata sangat sulit untuk melakukan penghapusan terhadap banyak posting di WordPress.com. Beberapa kali saya mendapatkan pesan kesalahan dalam proses penghapusan.

Saat ini saya sekarang mencoba berkomitmen untuk menuliskan posting ke blog ini, minimal 1 minggu sekali. Saya ingin mengembalikan blog ini ke tujuannya semula, yaitu sebagai tempat untuk menampung semua pendapat, pembelajaran, dan tidak ketinggalan keluhan. Semoga dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Rambling Updates…

It’s been a long time since my last post (well, so called automated post from delicious.com :-D ). As far as I remembered, I failed to fulfill one of my resolutions, to blog regularly. Turns out, it is hard :-D I adore all of you (especially Budi Putra), who makes Blogging as his main job. Well, I realized that I am not a good writer. I always let my let-just-say-thoughts flying away along the way, and I ended hitting rock when I am trying to remember it. I guess I am getting old now :-D .

Let’s see.. What’s new in life? Well, a lot actually. My main resolutions is finally moving, thank god it moves to right direction :-D . Hopefully, everything will work as planned. I also purchased a new mobile number, dedicated for Internet access (with not so fast, but better than nothing). It means, I can access everything related with FOSS. As my office’s blocks access to git port and IRC channels, now I can start on my plan to contribute to FOSS world. Google, I am coming :-D

Worklife also quite changed. Since we are trying to reach CMM Level 3, I was ordered to learn Software Quality Assurance process. I was very excited, because SQA plays big role in determining your software’s quality. It is a big challenge since I am new to this, but fortunately my team members are very helpful. Looking forward to be the pain in the developer’s arse LOL. Learning SQA also leads me to some great tools. At the moment, we are switching our SCM from Subversion to Mercurial (in slow progress), setting up ReviewBoard server for reviewing code and considering Hudson for our Continous Integration. Wish us luck then.

So the summary is, life’s been good. Another challenge is ahead of us. But, that which does not kill us makes us stronger. B-)

Giving Critics in a Good Way

This morning, I read Aaron Seigo’s blog entry about User Friendly Applications in KDE SC 4.x series. He described that in Linux Today Editor’s Note from Carla Schroder, she mentioned that Gwenview in KDE SC 4.x is less user-friendly than in KDE 3.5.x. Clara also claimed that she is 60% satisfied, and 40% annoyed when she using KDE SC 4.x meanwhile she is 90% satisfied using KDE 3.5 series.

In that Editor’s Note, she explained how Gwenview in KDE 3.5 give the user more power to configure the software than in KDE SC 4.x. She questioned the reasons behind all redesigned user interface in Gwenview, which produced software that less user-friendly. She used Gwenview, KDE Default Image Viewer as an example. She pointed out that Gwenview in KDE 3.5.x gives more power to the user through more configuration options than the KDE SC 4.x version. In his respond, Aaron gave a brief description about the reasons and made some points that Gwenview in KDE SC 4.4 far more powerful than the old version. Some are valid points I think. KDE SC 4.x is a software built with new paradigm and consist a lot of new technology that far far more powerful than 3.5.x.

But, what made the entry interesting is Aaron felt a little bit *if you may say* dissappointed about that Editor’s Note is even Clara is a KDE contributor, her article is based on poor facts. He felt that if Clara did consulted the Gwenview’s author or other people involved heavily in KDE SC 4.x (including him, of course), the Editor’s Note will come better as Clara will have enough information. Later he even wrote another entry describing his feeling about how people tends to give suggestions in bad ways rather than makes some efforts to do some research to ensure they have deep understanding. Some people just bluntly comes and says that develeopers are stupid without trying to find any reason behind that decisions. A clear example is one of the responds in Aaron entry about User Friendly. A user said that he (Aaron, in this case he represents all KDE developers) is not understand the users. In my opinion, he misunderstand Aaron intention. (update: the comments has been erased.yay)

What makes it more sad, people who do that is actually CARE. They mostly are proud KDE users, they use KDE since its early days, fell in love with it and actually use KDE in their daily activities. It is sad. In the end of his entry, Aaron raised a question left open for discussion. Is there a better way to give review, or you can say critics, in a good way? So the developers can figure out correctly the good intention and release better version and the community can grow stronger. After all, KDE is ours. Feel free to visit Aaron’s blog and give comments.

Kalah Terus. Kapan Menangnya?

Hendri dan Aparat from Kompas.com

Beberapa hari yang lalu, Tim Nasional Sepakbola Senior Indonesia menjamu Oman dalam laga yang menentukan keikutsertaan negeri ini di ajang Piala Asia 2011. Saat pertandingan akan digelar, Indonesia menduduki posisi juru kunci tanpa mengantungi kemenangan. Seluruh rakyat Indonesia memberikan dukungan, dengan datang langsung ke Stadion Gelora Bung Karno, menyimak melalui layar kaca, atau mengandalkan layanan twitter seperti yang saya lakukan :-) . Semua berdoa, berharap Tim Nasional dapat memenangkan laga agar asa untuk berlaga di ajang Piala Asia tersebut masih ada.

Memang benar kata pepatah, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Pertandingan menentukan tersebut berakhir dengan kekalahan. Ah, kekalahan kesekian bagi Tim Nasional Indonesia. Kekalahan lagi bagi Tim yang di pundak merekalah diletakkan harapan Indonesia dapat lebih berbicara dalam ajang internasional. Sudah beberapa ribu kali pendukung setia ini mendapatkan janji perbaikan dari para pengurus organisasi olahraga paling populer ini. Janji-janji dari sekelompok orang yang sudah duduk terlalu lama, sampai merasa bahwa tidak ada lagi orang yang bisa melakukan pekerjaan lebih baik daripada mereka. Beberapa rekan dengan usia jauh lebih tua menyatakan bahwa para pengurus tersebut telah duduk di kursi tersebut semenjak mereka menempuh pendidikan dasar. Wah, benar-benar kursi yang sangat empuk. Bisa membuat orang yang sudah duduk lupa berdiri. Sampai-sampai ingin duduk lagi selepas keluar dari bui.

Sebagai pendukung Tim Nasional, mendengar kekalahan sudah menjadi sebuah berita yang biasa. Sudah lelah saya melihat pergantian pelatih kepala, mulai dari penggunaan pelatih lokal sampai pelatih level internasional, yang digadang-gadang dapat membuat negara gajah putih tetangga kita dapat menjuarai Piala Tiger dalam kurun waktu singkat saja. Muak mendengar pembelaan mengenai kurangnya waktu untuk melakukan pemusatan latihan. Bosan mendengar alasan kurangnya persiapan fisik dan mental. Sedih mengingat betapa banyaknya uang rakyat yang digelontorkan untuk mengirimkan mereka berlatih dan melakukan uji coba di negara-negara lain. Gondok rasanya. Lagi-lagi kalah.

Kelelahan, kemarahan, kebosanan dan kesedihan ini mungkin juga dirasakan oleh Hendri Mulyadi. Aksi menerobos pagar, menembus barikade polisi sampai mengecoh beberapa pemain lawan, menjadi berita yang ramai dibicarakan saat ini disamping kisruh Pansus Century dan Proses Pengadilan Anggodo. Tindakan berani, bahkan ada yang menyebut heroik, mewakili keinginan seluruh pendukung Tim Nasional agar hegemoni para orang-orang yang sudah duduk terlalu lama. Seperti biasa yang terjadi di Indonesia, muncul gerakan-gerakan yang mendukung tindakan Hendri tersebut. Mereka mendesak agar dilakukan perubahan terhadap organisasi pengurus sepakbola di negara ini, mengingat niat kita untuk mencalonkan diri sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 :-D .

Di pihak lain, pengurus yang berwenang mengatakan aksi tersebut mengakibatkan negara menderita kerugian sampai USD $20.000. Pada pertandingan kemarin, Indonesia dinyatakan melanggar 2 buah aturan FIFA mengenai penyelenggaraan pertandingan berskala Internasional, yaitu masalah penggunaan petasan dan aksi Hendri yang menerobos barikade pengamanan dan dianggap mengganggu jalannya pertandingan. Benar-benar aneh, tanggapan yang keluar dari pihak mereka hanya masalah pelanggaran, bukan permohonan maaf mengenai performa buruk dari Tim Nasional yang mengecewakan banyak orang. Mereka sepertinya tidak memiliki niat untuk melakukan introspeksi diri dan mengakui kesalahan yang mereka lakukan sehingga lagi-lagi tidak ada prestasi yang memuaskan. Tanpa ada rasa bersalah, mereka menuding bahwa tindakan tersebut membuat aib bagi bangsa Indonesia di hadapan FIFA. Apakah mereka tidak berpikir bahwa prestasi mereka lebih memalukan lagi? Berpuluh tahun berlaku sebagai pembina, namun tidak ada manfaatnya bagi kemajuan sepakbola.

Sudahlah, bubarkan saja kepengurusan itu. Hentikan saja penyelenggaran liga sepakbola super itu. Untuk apa membuang uang APBD jika yang disajikan dalam setiap pertandingan adalah ajang baku hantam, kejar-mengejar wasit dan perkelahian antara pendukung sepakbola. Keberadaan pemain asing bukan meningkatkan kualitas permainan, hanya menambah kericuhan. Lebih baik uang yang dikeluarkan digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, mungkin dengan membeli hak siar liga asing yang lebih bermutu sebagai tontonan akhir pekan.

Bagaimana lagi caranya memberi masukan bagi sekelompok orang yang sudah menutup diri mereka dari kebaikan. Ah, kalo seperti ini, kapan kita akan menang?????

Gus Dur dan Pahlawan Nasional.

Tahun 2009 kemarin ditutup oleh kehilangan beberapa orang besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. K.H. Abdurrahman Wahid dan Frans Seda, keduanya tokoh yang disegani dan telah berkontribusi dalam kemajuan yang dicapai bangsa Indonesia saat ini. Tidak ada yang meragukan kemampuan intelektual kedua tokoh tersebut. Benar-benar kehilangan besar T_T. Sebenarnya, saya tidak ingin ikut latah berkomentar mengenai warisan yang ditinggalkan oleh kedua tokoh ini, terutama Gus Dur. Beberapa hari ini, seluruh media dengan gencarnya memberitakan keinginan untuk menjadikan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional. Keinginan ini menjadi pemicu munculnya beberapa polemik mengenai siapa saja yang berhak untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional. Mulai dari Partai Golkar yang mengajukan syarat agar mendiang Pak Harto juga berhak menjadi seorang Pahlawan Nasional, beberapa Partai Islam yang menyatakan bahwa tidak ada keraguan lagi mengenai sepak terjang Gus Dur selama beliau hidup terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga pantaslah untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Sebagai rakyat biasa, sejujurnya saya lelah melihat dagelan yang ditampilkan di media Indonesia, baik cetak maupun elektronis. Dari pemberitaan-pemberitaan tersebut, terlintas sebuah pertanyaan. Seberapa pentingkah gelar Pahlawan Nasional itu?. Gunawan Muhammad dalam salah satu tweet-nya mengutip ucapan dari Bretz: "Tidak bahagia sebenarnya sebuah negara yang membutuhkan Pahlawan.". Sebuah perkataan yang menggambarkan keadaan rakyat Indonesia saat ini. Keadaan dimana rakyat tidak memiliki figur yang dapat dijadikan panutan, karena figur tersebut telah hilang dari kehidupan sehari-hari. Menyedihkan sekali.

Kembali ke permasalahan mengenai Pahlawan Nasional, saya berandai-andai, jika dapat meminjam alat mesin waktu yang dimiliki oleh Doraemon, ingin rasanya pergi menemui para Bapak Pendiri Bangsa ini. Saya ingin menceritakan keadaan negara ini sekarang, dan mengajukan pertanyaan. "Apakah Anda melakukan semua pengorbanan ini, dengan taruhan nyawa, untuk menjadi seorang Pahlawan Nasional?". Jawaban mereka mungkin sudah dapat ditebak. Dari pemikiran tersebut, sampailah saya pada kesimpulan bahwa kita selama ini salah. Salah apa? Salah karena kita mengusahakan penghargaan terhadap seseorang yang mungkin tidak pernah berpikir untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Debat kusir antara partai-partai mengenai kepantasan Gus Dur menyandang gelar Pahlawan Nasional telah mengalihkan kita dari warisan sebenarnya dari perjuangan Gus Dur semasa Beliau hidup. Pelajaran-pelajaran ini semakin tidak tersampaikan karena semua media cetak dan elektronis berfokus dalam menayangkan debat kusir tersebut. Seolah-olah Gus Dur berbuat semua itu hanya demi sebuah gelar Pahlawan Nasional. Picik sekali.

Kepada semua Guru Bangsa yang telah meninggalkan kami semua, kami mohon maaf atas kekhilafan kami dalam mencerna arti perjuangan Kalian. Gelar Pahlawan Nasional sesungguhnya sangat tidak berarti dibandingkan dengan apa yang Kalian telah wariskan kepada kami. Semoga Anda sekalian dapat beristirahat dengan tenang di alam sana. Semoga kami tidak mengecewakan Anda sekalian. Tuhan, berikan kami kekuatan. Amin.

Learning new things…

New things added in to-do list of learning:

  1. Python and django
  2. Scala
  3. Clojure
  4. Korean
  5. Chinese
  6. Russian
  7. Arabic
  8. Hebrew
  9. Latin

Protected: Berkah Wisuda di Bulan Ramadhan

This post is password protected. To view it please enter your password below:

My Deepest Condolences

I know, it almost a week. But the sadness is still remaining in our heart. I just want to express my deepest condolences for the victims. I also want to say that I curse the bombers, eventhough they use their religion as justification for their act. I believe God is the almighty justice, and each human being will be punished for their sins.

May peace will come upon us. Amen.

Manusia itu aneh..

This time, my post is in Indonesian. I am very sorry but it’s hard to express it in English..

Well, let’s start..

Pernahkan merasa kalo kita ini tidak berharga sebagai seorang manusia? Dimana keberadaan kita hanya sebagai pemanis saja, dan pendapat kita hanya ditanyakan sebagai sebuah bentuk formalitas dari sebuah pergaulan? Memang manusia adalah makhluk yang paling membingungkan dan hati manusia adalah benda yang paling misterius di alam ini. Ya ada saja orang yang memakai alasan itu blah blah blah.. Tapi kan manusia juga makhluk yang katanya paling baik di antara semua ciptaan Tuhan. Tapi kenapa manusia tidak bisa memanfaatkan otaknya itu dalam mengamati keadaan sekitarnya untuk mencoba memahami perhatian dan perasaan yang diberikan oleh seseorang lainnya??

Memang menyakitkan kalau perhatian dan kasih sayang kita terhadap seseorang diabaikan begitu saja. Namun kenapa yang melakukannya adalah orang-orang terdekat kita? Bagaimana cara menyikapinya? Apakah kita harus menjadi manusia yang tidak peduli lagi? Mungkin itu lebih baik, karena beban pikiran kita akan semakin berkurang dan kinerja lebih baik karena kita bisa berkonsentrasi kepada diri kita sendiri? Atau inikah asal-usul datangnya kebebasan di benua lain? Karena perhatian yang diberikan dibalas dengan perbuatan yang menyakiti hati?

Sangat disayangkan, perbuatan ini terjadi di bulan suci, dimana seharusnya hati ini bersih dari segala iri dan dengki.. Semoga Tuhan membantu kita semua…

Apa pendapat kalian semua?

Renungan tentang NEM

Aku baru saja membaca thread di mili alumni yang membicarakan tentang NEM. NEM adalah nilai yang sangat menentukan dalam kehidupan seorang siswa, dimana NEM menentukan dimana kita akan belajar selanjutnya, apakah di SLTP/SMA favorit pilihan kita, atau kita terbuang ke tempat yang tidak jelas rimbanya?

Di thread tersebut ada uraian dari salah satu junior yang menceritakan bahwa temannya yang notabene bukanlah orang yang bodoh, namun terjerembab di lingkungan yang salah hanya karena nilai NEM dia kurang dari batasan sekolah tujuannya.

Mendengar cerita itu, banyak tanggapan yang memberikan pendapat bahwa sebaiknya kita memilih sekolah yang lebih aman bagi kita, dalam arti kita tahu kualitasnya, namun sekolah tersebut memiliki standar NEM minimal yang lebih rendah.

Ternyata, setelah merenung, hal itu juga terjadi pada saya, yang notabene SMU saya bukan merupakan sekolah favorit (pada saat itu) namun ternyata saya berada di tempat yang sama dengan teman-teman yang berasal dari sekolah yang lebih difavoritkan.

Buat orang tua yang memiliki anak SD / SLTP, saya ingin membagi nasihat ayah saya saat saya ingin memilih sekolah dulu:

Pilih mana? Ekor Gajah atau Kepala Semut?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.