Archive for the ‘ journal ’ Category

links for 2011-09-08

2010 in review

Well, it is al little bit late, but I would like to make a list of things that I have achieved last year.

1. Becoming Team Leader, it means bigger responsibility and of course, bigger bonus :D
2. Getting my own Credit Card, which is all I need for doing online shopping
3. Buy my first book in Amazon xD
4. Proposing to my long-time girlfriend, it is time to settle down
5. Preparing for the wedding, it took all my weekends this year
6. Marrying my girlfriend
7. Start a new life together, new parents, new aunts and uncles,
new sister/brother and new cousins

In general, those are my list. Looking forward to 2011, hope there will be a lot of excitements!!!!

Mplayer Joystick Problem

Mplayer is my favourite application for playing Videos. MPlayer supports almost all video format, easy to launch, simple keyboard control and it runs very smooth comparing VLC or Kaffeine. Since I got my new laptop, every time I launch MPlayer, I got a warning message complaining about Joystick device that does not even exists!. So I googled for the solution and found a thread in openSUSE Forums. The solution is very easy. All you have to do is

  1. edit your MPlayer configuration, usually located in /home/<username>/.mplayer/config (notice the dot befor mplayer) using your favourite editor
  2. add this line: nojoystick=yes, and you are done :)
  3. enjoy using MPlayer

Hope this tip helpful!

Dual Monitor in KDE 4.5.1

Just note for self.

If you use a laptop with intel graphic cards with openSUSE 11.3 and KDE 4.5.1 as your Desktop Environment, you might find a problem when you are setting a Dual Monitor up. Apparently, KDE Display and KRandR can not understand that my external LCD is not my primary output. KRandR consistently configures my laptop monitor as external monitor, although it identifies correctly. After searching for answers (and found out that I am not alone :) ), I found that you have to use xrandr command manually to set the primary monitor.

So in general, you connect your external monitor, let KDE Display identify it, set the resolution and run this command in your console to set your laptop monitor as the primary monitor:

xrandr –output LVDS1 –primary

Note: LVDS1 is the name of my laptop monitor, replace it with your monitor’s identified name.

And your done.

Rambling Updates…

It’s been a long time since my last post (well, so called automated post from delicious.com :-D ). As far as I remembered, I failed to fulfill one of my resolutions, to blog regularly. Turns out, it is hard :-D I adore all of you (especially Budi Putra), who makes Blogging as his main job. Well, I realized that I am not a good writer. I always let my let-just-say-thoughts flying away along the way, and I ended hitting rock when I am trying to remember it. I guess I am getting old now :-D .

Let’s see.. What’s new in life? Well, a lot actually. My main resolutions is finally moving, thank god it moves to right direction :-D . Hopefully, everything will work as planned. I also purchased a new mobile number, dedicated for Internet access (with not so fast, but better than nothing). It means, I can access everything related with FOSS. As my office’s blocks access to git port and IRC channels, now I can start on my plan to contribute to FOSS world. Google, I am coming :-D

Worklife also quite changed. Since we are trying to reach CMM Level 3, I was ordered to learn Software Quality Assurance process. I was very excited, because SQA plays big role in determining your software’s quality. It is a big challenge since I am new to this, but fortunately my team members are very helpful. Looking forward to be the pain in the developer’s arse LOL. Learning SQA also leads me to some great tools. At the moment, we are switching our SCM from Subversion to Mercurial (in slow progress), setting up ReviewBoard server for reviewing code and considering Hudson for our Continous Integration. Wish us luck then.

So the summary is, life’s been good. Another challenge is ahead of us. But, that which does not kill us makes us stronger. B-)

Kalah Terus. Kapan Menangnya?

Hendri dan Aparat from Kompas.com

Beberapa hari yang lalu, Tim Nasional Sepakbola Senior Indonesia menjamu Oman dalam laga yang menentukan keikutsertaan negeri ini di ajang Piala Asia 2011. Saat pertandingan akan digelar, Indonesia menduduki posisi juru kunci tanpa mengantungi kemenangan. Seluruh rakyat Indonesia memberikan dukungan, dengan datang langsung ke Stadion Gelora Bung Karno, menyimak melalui layar kaca, atau mengandalkan layanan twitter seperti yang saya lakukan :-) . Semua berdoa, berharap Tim Nasional dapat memenangkan laga agar asa untuk berlaga di ajang Piala Asia tersebut masih ada.

Memang benar kata pepatah, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Pertandingan menentukan tersebut berakhir dengan kekalahan. Ah, kekalahan kesekian bagi Tim Nasional Indonesia. Kekalahan lagi bagi Tim yang di pundak merekalah diletakkan harapan Indonesia dapat lebih berbicara dalam ajang internasional. Sudah beberapa ribu kali pendukung setia ini mendapatkan janji perbaikan dari para pengurus organisasi olahraga paling populer ini. Janji-janji dari sekelompok orang yang sudah duduk terlalu lama, sampai merasa bahwa tidak ada lagi orang yang bisa melakukan pekerjaan lebih baik daripada mereka. Beberapa rekan dengan usia jauh lebih tua menyatakan bahwa para pengurus tersebut telah duduk di kursi tersebut semenjak mereka menempuh pendidikan dasar. Wah, benar-benar kursi yang sangat empuk. Bisa membuat orang yang sudah duduk lupa berdiri. Sampai-sampai ingin duduk lagi selepas keluar dari bui.

Sebagai pendukung Tim Nasional, mendengar kekalahan sudah menjadi sebuah berita yang biasa. Sudah lelah saya melihat pergantian pelatih kepala, mulai dari penggunaan pelatih lokal sampai pelatih level internasional, yang digadang-gadang dapat membuat negara gajah putih tetangga kita dapat menjuarai Piala Tiger dalam kurun waktu singkat saja. Muak mendengar pembelaan mengenai kurangnya waktu untuk melakukan pemusatan latihan. Bosan mendengar alasan kurangnya persiapan fisik dan mental. Sedih mengingat betapa banyaknya uang rakyat yang digelontorkan untuk mengirimkan mereka berlatih dan melakukan uji coba di negara-negara lain. Gondok rasanya. Lagi-lagi kalah.

Kelelahan, kemarahan, kebosanan dan kesedihan ini mungkin juga dirasakan oleh Hendri Mulyadi. Aksi menerobos pagar, menembus barikade polisi sampai mengecoh beberapa pemain lawan, menjadi berita yang ramai dibicarakan saat ini disamping kisruh Pansus Century dan Proses Pengadilan Anggodo. Tindakan berani, bahkan ada yang menyebut heroik, mewakili keinginan seluruh pendukung Tim Nasional agar hegemoni para orang-orang yang sudah duduk terlalu lama. Seperti biasa yang terjadi di Indonesia, muncul gerakan-gerakan yang mendukung tindakan Hendri tersebut. Mereka mendesak agar dilakukan perubahan terhadap organisasi pengurus sepakbola di negara ini, mengingat niat kita untuk mencalonkan diri sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 :-D .

Di pihak lain, pengurus yang berwenang mengatakan aksi tersebut mengakibatkan negara menderita kerugian sampai USD $20.000. Pada pertandingan kemarin, Indonesia dinyatakan melanggar 2 buah aturan FIFA mengenai penyelenggaraan pertandingan berskala Internasional, yaitu masalah penggunaan petasan dan aksi Hendri yang menerobos barikade pengamanan dan dianggap mengganggu jalannya pertandingan. Benar-benar aneh, tanggapan yang keluar dari pihak mereka hanya masalah pelanggaran, bukan permohonan maaf mengenai performa buruk dari Tim Nasional yang mengecewakan banyak orang. Mereka sepertinya tidak memiliki niat untuk melakukan introspeksi diri dan mengakui kesalahan yang mereka lakukan sehingga lagi-lagi tidak ada prestasi yang memuaskan. Tanpa ada rasa bersalah, mereka menuding bahwa tindakan tersebut membuat aib bagi bangsa Indonesia di hadapan FIFA. Apakah mereka tidak berpikir bahwa prestasi mereka lebih memalukan lagi? Berpuluh tahun berlaku sebagai pembina, namun tidak ada manfaatnya bagi kemajuan sepakbola.

Sudahlah, bubarkan saja kepengurusan itu. Hentikan saja penyelenggaran liga sepakbola super itu. Untuk apa membuang uang APBD jika yang disajikan dalam setiap pertandingan adalah ajang baku hantam, kejar-mengejar wasit dan perkelahian antara pendukung sepakbola. Keberadaan pemain asing bukan meningkatkan kualitas permainan, hanya menambah kericuhan. Lebih baik uang yang dikeluarkan digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, mungkin dengan membeli hak siar liga asing yang lebih bermutu sebagai tontonan akhir pekan.

Bagaimana lagi caranya memberi masukan bagi sekelompok orang yang sudah menutup diri mereka dari kebaikan. Ah, kalo seperti ini, kapan kita akan menang?????

Gus Dur dan Pahlawan Nasional.

Tahun 2009 kemarin ditutup oleh kehilangan beberapa orang besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. K.H. Abdurrahman Wahid dan Frans Seda, keduanya tokoh yang disegani dan telah berkontribusi dalam kemajuan yang dicapai bangsa Indonesia saat ini. Tidak ada yang meragukan kemampuan intelektual kedua tokoh tersebut. Benar-benar kehilangan besar T_T. Sebenarnya, saya tidak ingin ikut latah berkomentar mengenai warisan yang ditinggalkan oleh kedua tokoh ini, terutama Gus Dur. Beberapa hari ini, seluruh media dengan gencarnya memberitakan keinginan untuk menjadikan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional. Keinginan ini menjadi pemicu munculnya beberapa polemik mengenai siapa saja yang berhak untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional. Mulai dari Partai Golkar yang mengajukan syarat agar mendiang Pak Harto juga berhak menjadi seorang Pahlawan Nasional, beberapa Partai Islam yang menyatakan bahwa tidak ada keraguan lagi mengenai sepak terjang Gus Dur selama beliau hidup terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga pantaslah untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Sebagai rakyat biasa, sejujurnya saya lelah melihat dagelan yang ditampilkan di media Indonesia, baik cetak maupun elektronis. Dari pemberitaan-pemberitaan tersebut, terlintas sebuah pertanyaan. Seberapa pentingkah gelar Pahlawan Nasional itu?. Gunawan Muhammad dalam salah satu tweet-nya mengutip ucapan dari Bretz: "Tidak bahagia sebenarnya sebuah negara yang membutuhkan Pahlawan.". Sebuah perkataan yang menggambarkan keadaan rakyat Indonesia saat ini. Keadaan dimana rakyat tidak memiliki figur yang dapat dijadikan panutan, karena figur tersebut telah hilang dari kehidupan sehari-hari. Menyedihkan sekali.

Kembali ke permasalahan mengenai Pahlawan Nasional, saya berandai-andai, jika dapat meminjam alat mesin waktu yang dimiliki oleh Doraemon, ingin rasanya pergi menemui para Bapak Pendiri Bangsa ini. Saya ingin menceritakan keadaan negara ini sekarang, dan mengajukan pertanyaan. "Apakah Anda melakukan semua pengorbanan ini, dengan taruhan nyawa, untuk menjadi seorang Pahlawan Nasional?". Jawaban mereka mungkin sudah dapat ditebak. Dari pemikiran tersebut, sampailah saya pada kesimpulan bahwa kita selama ini salah. Salah apa? Salah karena kita mengusahakan penghargaan terhadap seseorang yang mungkin tidak pernah berpikir untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Debat kusir antara partai-partai mengenai kepantasan Gus Dur menyandang gelar Pahlawan Nasional telah mengalihkan kita dari warisan sebenarnya dari perjuangan Gus Dur semasa Beliau hidup. Pelajaran-pelajaran ini semakin tidak tersampaikan karena semua media cetak dan elektronis berfokus dalam menayangkan debat kusir tersebut. Seolah-olah Gus Dur berbuat semua itu hanya demi sebuah gelar Pahlawan Nasional. Picik sekali.

Kepada semua Guru Bangsa yang telah meninggalkan kami semua, kami mohon maaf atas kekhilafan kami dalam mencerna arti perjuangan Kalian. Gelar Pahlawan Nasional sesungguhnya sangat tidak berarti dibandingkan dengan apa yang Kalian telah wariskan kepada kami. Semoga Anda sekalian dapat beristirahat dengan tenang di alam sana. Semoga kami tidak mengecewakan Anda sekalian. Tuhan, berikan kami kekuatan. Amin.

Refleksi 2009 dan Resolusi 2010

Hmm.. sebuah entri yang sedikit terlambat, mengingat hari ini adalah hari ketiga di tahun baru ini. Dikarenakan keterbatasan akses internet dan kemalasan yang luar biasa saat liburan panjang ini, membuat entri ini mendekam dalam pikiran selama beberapa hari. Sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya, saat tahun baru menjelang, ranah Internet ramai dengan entri-entri yang pada intinya mengandung refleksi 2009 dan resolusi 2010, mulai dari refleksi dan resolusi yang serius, sampai resolusi monitor di tahun depan pun tersedia LOL.

Tahun 2009

Tahun 2009 merupakan tahun yang cukup menyenangkan. Awal tahun diawali dengan kejadian yang kurang menyenangkan, yaitu terserang penyakit Typhus. Selama 2 minggu terbaring di rumah merupakan kegiatan yang sangat membosankan. Rasanya tersiksa terpisah dengan komputer begitu lama, dan membayangkan banyaknya pekerjaan yang akan hadir mengingat absen cukup lama dari kantor.

Setelah sembuh dari penyakit yang sangat menyebalkan, bulan ketiga dan keempat memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Akhirnya salah satu keinginan untuk melakukan perjalanan ke seluruh daerah di Indonesia mulai terwujud. Kota Batam, Semarang dan Mataram menjadi tempat persinggahan yang menyenangkan. Memang menyenangkan melakukan perjalanan tanpa mengeluarkan uang :-D .

Pertengahan tahun dilewati dengan menyaksikan perjuangan adik menyelesaikan tugas akhir di Fasilkom, ditutup dengan wisuda yang melelahkan di awal bulan Ramadhan. Bulan September dan Oktober mengisi kegiatan dengan menyelesaikan pekerjaan dan mempersiapkan untuk perjalanan keliling Indonesia Jilid kedua. Bulan November kembali ke jalanan (maksudnya pesawat :-P ) mengunjungi bumi Borneo di Banjarmasin, menikmati resor Lor-In di Solo dan akhirnya berkesempatan untuk mencoba snorkling di Bunaken, terima kasih kepada ibu Mika Halpin yang telah dengan giat mengompori kami untuk berangkat :-P

Akhir tahun ditutup dengan mengadakan pembicaraan serius tentang rencana masa depan dengan hmm.. :-D . Semoga semua rencana dapat terlaksana dengan lancar dan kita mendapatkan berkah dari Tuhan.

Sebenarnya banyak yang tidak tercapai dalam tahun 2009, seperti keinginan untuk menulis secara rutin, memiliki akses internet yang memadai, mulai terlibat dalam proyek FOSS, melanjutkan studi, dan juga menyempurnakan ibadah :-D

Yup, tadi itu tahun 2009 dalam rangkuman. Bagaimana dengan tahun 2010.

Tahun 2010

Jika dilihat dari perjalanan tahun 2009, maka rencana untuk tahun 2010 ini adalah untuk menyelesaikan beberapa target besar dalam kehidupan. Rencana pertama adalah mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi. Setelah persiapan Bahasa sudah selesai, maka langkah lanjutnya adalah melakukan penjajakan terhadap beberapa kemungkinan topik penelitian yang ada. Proses ini sebenarnya sudah dilakukan semenjak tahun 2009, dan saat ini telah mendapatkan beberapa kontak dari beberapa teman yang sedang menjalani studi di luar negeri. Terima kasih yang tidak terhingga untuk Wikan dan Baskoro yang dengan giatnya berbagi informasi mengenai studi di Austria. Semoga tahun ini bisa menyusul kalian. Amin.

Rencana kedua adalah untuk menyempurnakan ibadah. Rencana yang sudah menjadi wacana selama beberapa tahun ini. Mohon maaf, terutama bagi pasangan, karena membuat lama menunggu :-P . Mudah-mudahan tahun ini dimantapkan niat dan dimudahkan segala urusan sehingga dapat melaksanakan rencana besar tersebut. Mohon kesabarannya sekali lagi :-D

Rencana ketiga adalah memaksa diri untuk mulai berkontribusi di dunia FOSS. Setelah lama menjadi pengamat, akhirnya mendapatkan pelajaran bahwa keterlibatan dalam FOSS dapat membuka jalan menuju pekerjaan yang lebih baik lagi. Dengan berkontribusi, secara tidak langsung akan meningkatkan portofolio yang akan memudahkan dalam mencari pekerjaan di luar negeri :-D

Rencana keempat adalah hidup lebih sehat. Harus lebih disiplin dalam mengatur jadwal bangun agar dapat menjalankan olahraga secara rutin. Menahan nafsu makan agar tidak berlebihan. Hidup lebih sehat di 2010 :-D

Rencana terakhir adalah meningkatkan kualitas ibadah. Semenjak sakit typhus, jadwal hidup menjadi sedikit berantakan. Rutinitas Puasa Sunah Senin-Kamis yang sering dijalankan menjadi terabaikan. Solat-solat sunnah yang dianjurkan pun akhirnya tidak terlaksana T_T. Oleh karena itu, tahun 2010 harus dapat mengembalikan ritme ibadah yang telah hilang, semoga dapat menjadi kebiasaan lagi. Amin.

Oiya, ada juga rencana untuk melakukan upgrade komputer yang lebih baik lagi sehingga resolusi tahun 2010 lebih tinggi dari 1280×800 LOL. Semoga bisa terlaksana tanpa mengganggu rencana yang lain :-D

Refleksi 2010 selesai. Semoga menjadi tahun yang lebih baik sehingga kita tidak menjadi orang yang merugi. Amin.

Learning new things…

New things added in to-do list of learning:

  1. Python and django
  2. Scala
  3. Clojure
  4. Korean
  5. Chinese
  6. Russian
  7. Arabic
  8. Hebrew
  9. Latin

Nice Poet (in Indonesian)

Tuhan Sembilan Senti

oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan
bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin
paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap
tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola,
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘eek’ orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang
kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati
karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada
tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Thanks to Sidicx

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.