Saya merupakan penggemar Apple Inc, dengan segala alat produksinya. Bentuknya yang elegan, prestise yang dibungkus dalam sebuah
kemudahan pemakaian menjadi alasan saya menginginkan gadget keluaran perusahaan asal Cupertino tersebut. Sayangnya keinginan
tersebut terhambat dari sisi pendanaan, di mana harga dari gadget Apple ini terbilang tidak murah. Apalagi sebagai orang komputer,
kita dapat membandingkan spesifikasi dari gadget tersebut dengan produsen lainnya. Terkadang, gadget keluaran Apple ini menggunakan
teknologi yang tidak awam, serta komponen yang paling baru.
Walaupun dengan segala kekurangannya, gadget keluaran Apple tetaplah sebuah gadget yang menarik. Kinerja dari gadget Apple juga tidak
buruk, bahkan bisa dibilang sangat baik dibandingkan dengan kompetitornya. Dengan sistem operasi yang dikembangkan sendiri, maka Apple
dapat menyesuaikan dengan perangkat keras sehingga menghasilkan performa yang sangat baik. Seperti yang pernah diucapkan oleh mendiang Co-Founder Apple, Inc. Steve Jobs, “a good software Company makes its own hardware”. Prinsip ini yang dipegang oleh Apple, sehingga semua komponen dari hulu sampai hilir, diproduksi oleh Apple sendiri.
Kegemaran akan gadget Apple ini saya tularkan juga ke orang sekeliling saya. Orang pertama yang terpengaruh adalah istri saya (saat itu
masih menjadi pacar), yang sedang mencari sebuah laptop untuk mendukung pekerjaannya sebagai dosen dan aktivitasnya sebagai mahasiswa
pascasarjana. Sebuah MacBook White menjadi pilihannya, karena warna putihnya yang manis serta daya tahan baterainya yang sangat mendukung mobilitasnya. Korban berikutnya adalah adik sendiri, yang juga membeli MacBook White, tidak lama setelah Apple mengeluarkan sistem operasi terbaru dari seri kucing besar, yaitu MacOS X 10.5 Leopard. Berbagai macam animasi, serta terobosan yang dikemas dengan sangat baik membuat saya semakin bernafsu untuk mengumpulkan uang demi gadget Apple. Terlebih lagi saat adik saya memutuskan untuk membeli sebuah iPod Touch, yang menjadi teman baik dalam menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.
Setelah bekerja beberapa lama, dan mengumpulkan uang, akhirnya saya mendapatkan rezeki untuk membeli gadget Apple. Yang lucu, gadget Apple yang saya beli bukan sebuah komputer, melainkan tablet keluaran Apple, yaitu iPad. Saya sudah naksir berat dengan gadget tersebut saat
pertama kali diperkenalkan. Saat itu saya berpikir, iPad dapat menjadi sebuah gadget yang memenuhi kebutuhan saya untuk mengakses Internet saat pulang dari kantor. Terlebih lagi, saya sudah memasang jaringan nirkabel di rumah, yang terhubung dengan Internet berkecepatan dan stabil tanpa kuota. Dengan iPad, saya tidak perlu mengeluarkan laptop hanya untuk melihat email atau mengikuti berita terkini serta memantau lini masa jejaring sosial saya. Berbarengan dengan momen tersebut, istri berkeinginan untuk melakukan upgrade MacBook White-nya yang dirasakan sudah lambat dengan MacBook Pro yang memiliki kekuatan komputasi lebih baik.
Tidak lama saat iPad masuk ke negeri tercinta ini, Apple mengumumkan ketersediaan baru dari MacBook Air, sebuah laptop ultra ringan dengan tebal tidak lebih dari 2 cm. Selama ini, MacBook Air dikemas dengan spesifikasi yang jauh lebih rendah dibandingkan MacBook White atau MacBook Pro, karena ruang yang tersedia jauh lebih kecil. Akan tetapi, di awal tahun ini, produsen prosesor Intel, yang menjadi mitra
Apple selama beberapa tahun ini sebagai pemasok prosesor untuk MacBook dan Mac telah berhasil membuat versi chipset terbarunya, yaitu
Sandy Bridge dengan ukuran yang cocok dengan spesifikasi MacBook Air. Keberhasilan ini menghasilkan sebuah laptop yang sangat ringan,
namun di saat yang sama, memiliki kekuatan komputasi jauh di atas MacBook Pro. Dengan menggunakan harddisk SSD, maka kecepatan proses dari MacBook Air jauh meningkat dibandingkan sebelumnya. Hal yang terbaik adalah, Apple menurunkan harga dari MacBook Air sehingga lebih terjangkau.
Saat tersebut adalah saat yang sangat membahagiakan, mengingat saya sudah lama menginginkan sebuah laptop MacBook, namun dengan berat yang ringan. Selama ini, keluhan saya mengenai MacBook Air adalah konektivitas yang tersedia, mengingat hanya menyediakan koneksi jaringan nirkabel saja. Akan tetapi, setelah menggunakan iPad selama beberapa waktu, saya merasakan bahwa hal tersebut bukan menjadi masalah. Dengan keberadaan App Store dan Mac App Store, proses instalasi aplikasi tidak membutuhkan media optik lagi. Dan kondisi jaringan nirkabel yang dapat diandalkan juga membuat MacBook Air semakin menjadi pilihan.
Setelah membaca review, yang menyebutkan bahwa generasi MacBook Air ini merupakan laptop Apple yang paling baik, saya memutuskan untuk membeli sebuah MacBook Air dengan spesifikasi Intel Core i5, memori 4 GB, serta 128 GB SSD sebagai storage. Saya juga membeli USB to
Ethernet sebagai langkah pencegahan, serta memesan Incipio Feather Case untuk melindungi MacBook Air ini. Dengan tenaga baru dari
sistem operasi MacOS X Lion, yang membawa beberapa fitur iOS di iPad ke dalam Mac, saat ini MacBook Air sudah menjadi mesin utama
dalam bekerja dan bersenang-senang.
-6.364563
106.828716